Agan0811's Blog

Mekhanai Pesisir Canti – Rajabasa

Nasib Pembenur Tak Seelok Pesisir Kalianda

Dermaga Canti - Rajabasa  Lampung-Selatan

OMBAK berbuih menghantam karang. Pasir putih dan hawa laut yang segar serta hamparan luas laut membiru membuat dada segar. Kentalnya udara tanpa polusi membuat setiap hirupan napas makin melegakan.

Bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di pantai. “Itu sisa letusan Gunung Krakatau ratusan tahun silam,” tutur seorang warga. Saat laut pasang, di balik bongkahan-bongkahan batu besar itu banyak bersembunyi ikan-ikan laut yang indah dan udang-udang kecil serta biota laut lainnya, seperti bintang laut dan kepiting. Anak-anak nelayan dan warga sering memanfaatkannya untuk memancing, atau mengumpulkan kulit kerang yang terbawa ombak.

 Riak suara ombak seramai celoteh anak- anak, berlomba mengejar ikan atau sekadar bercanda berlarian di atas pasir pantai yang basah. Jika sore datang, mereka duduk di atasnya untuk sekadar melepas waktu menikmati senja.

Tak ada yang memungkiri, pesisir Pantai Kalianda memang elok. Beberapa pebisnis kelas atas, setara dengan keluarga Bakri, juga memilihnya untuk mengembangkan resor di kawasan itu. Para pengelola wisata lokal pun menawarkan indahnya pantai mulai dari Desa Canti hingga ke Desa Banding, Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Nelayan

Namun, sayang, keelokan itu tak seindah nasib sebagian warga Kalianda yang menggantungkan hidup mereka pada usaha pembenuran udang windu. Para pembenur udang windu tersebut banyak mendirikan usaha mereka di pesisir pantai. Meskipun usaha rakyat itu menggeliat lagi, geraknya tak sekuat dulu.

“Saat udang windu merajai pasar dan hasil para petambak di Rawajitu dan Labuhan Maringgai melesat, para pembenur di sini menikmati masa keemasannya,” tutur seorang pembenur.

Seiring dengan lesunya pertambakan udang rakyat di pesisir timur Lampung, lesu pula usaha pembenuran di Kalianda. “Kalaupun ada pembeli, ya itu-itu saja. Mereka berkeliling dari pembenur satu ke pembenur lain sehingga tampaknya usaha ini masih ramai,” tutur Made, seorang pembenur di Kalianda.

Gunung Rajabasa

Ia menjelaskan, merosotnya kemampuan para petambak di kawasan Rawajitu dan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, sangat memengaruhi usaha para pembenur. Para petambak umumnya adalah pengelola tambak rakyat yang selama ini dikelola untuk membudidayakan udang windu. “Merekalah satu-satunya pasar bagi para pembenur di Kalianda yang memang umumnya mengembangkan benur udang windu,” kata Made.

Oleh karena itu, jika kemampuan produksi mereka menurun, kemampuan mereka untuk menyerap benur udang milik para pembenur pun terbatas. Sekarang ini harga udang windu di tingkat petambak berkisar Rp 55.000 per kilogram.

Produksi dari tiap petak tambak rakyat itu pun tidak pernah lebih dari 250 kilogram. Bahkan, sering kali hasil tambak mereka tidak lebih dari 100 kilogram per petak. Modal yang harus mereka sisihkan sedikitnya adalah Rp 2,5 juta untuk benur, obat-obatan, pakan, upah penjaga dan upah untuk membersihkan tambak.

“Tak heran jika kami, para petambak ini, sering terbelit utang kepada para pengumpul atau pembina (sebutan bagi tengkulak udang windu-Red). Tetapi, kalau tidak tanam, lalu kami dapat makan dari mana,” ujar Sutoto, petambak asal Bunut, Lampung Selatan.

Selama ini, untuk tetap dapat mempertahankan usaha mereka, para petambak mencampur benur udang windu dengan benih bandeng. “Kalau tidak begitu, bisa-bisa tambak tidak ada hasilnya sama sekali. Dengan adanya bandeng, sedikitnya ada pemasukan untuk menutup sebagian pengeluaran modal,” ujarnya.

Hasil usaha sampingan itu juga digunakan untuk mengangsur utang pakan dan obat-obatan kepada para pembina atau pengumpul udang. “Umumnya kita membayar utang dengan memotong hasil panen. Biasanya para pembina memotong Rp 5.000 dari tiap kilogram udang yang mereka beli,” kata seorang petambak lain.

Jika hasil panen tiap tambak udang windu paling banyak adalah 250 kilogram, maka dalam satu kali masa panen sebesar Rp 13,7 juta. “Tampaknya saja besar, tetapi uang itu kemudian dipotong harga pakan, upah membersihkan tambak, harga benih atau gelondong, dan yang paling banyak untuk membayar utang,” tuturnya.

Petambak itu menjelaskan, sekarang ini untuk dapat memperoleh hasil sebesar itu adalah rahmat. Dari 10 kali tebar benih misalnya, untuk dapat panen sebanyak itu, dua atau tiga kali saja sudah sangat beruntung. Umumnya, sekarang ini setelah benih ditebar dan dapat bertahan hingga satu bulan saja sudah syukur. Banyak petambak yang baru menebar benih jarak satu minggu benihnya sudah habis.

KONDISI itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kondisi lingkungan tambak yang makin buruk dan mutu benur yang rendah. Menurut Made, sekarang ini usaha tambak udang dan pembenuran tak lagi kenal musim.

“Kalau dulu, selepas masa panen lalu memasuki masa pengeringan tambak, para pembenur di Kalianda mulai membuat benur. Tetapi, sekarang ini tidak kenal musim lagi. Benur baru ditebar sudah banyak mati, lalu para petambak harus memesan benur lagi,” ujarnya.

Padahal, untuk membeli benur, para petambak itu tidak lagi memiliki modal cukup sehingga mereka mencari benur dengan harga rendah. Akibatnya, para pembenur pun membuat benur mereka dengan mutu di bawah rata-rata. “Itu dilakukan untuk mengejar harga benur yang semakin hari semakin rendah saja. Mereka kan perlu untung juga,” tutur Made.

Para pembenur, menurut Made, tak lagi menggunakan pakan berkualitas. “Dulu tahun 1990-an harga pakan bermutu baik, Rp 25.000 per kaleng. Saat itu harga benur windu Rp 12 per ekor dan harga beras Rp 500 per kilogram. Dalam satu kali masa tebar, sedikitnya para pembenur mendapat sekitar Rp 400.000 benur. Saat ini harga pakan bermutu baik Rp 250.000 per kaleng, sedangkan harga benur antara Rp 10-Rp 12 per ekor, dan harga beras sudah Rp 3.500 per kilogram,” ucap Made.

Dengan kondisi seperti itu, tentu sulit untuk menghasilkan benur bermutu. Apalagi, kondisi tambak di kawasan Lampung Timur dan Lampung Selatan makin memburuk. Nyaris tidak ada perputaran air dalam kawasan pertambakan itu.

Air yang telah dibuang oleh seorang petambak akan disedot lagi oleh petambak lain. Banyak petambak mengelola tambak dengan dasar pemikiran keliru. Mereka beranggapan air dalam tambak tidak perlu diganti, hanya sesekali ditambah. Akibatnya, pembusukan sisa pakan serta berkembangnya bakteri dan plankton yang merugikan di tambak makin pekat. Dalam kondisi seperti itu, benur udang windu yang ditebar pun buruk sehingga usaha mereka selalu merugi.

Made sendiri tetap bertahan untuk menghasilkan benur bermutu. “Saya tetap menjual benur dengan kualitas baik seharga Rp 25 per ekor. Itu saya lakukan agar para petambak juga dapat memperoleh hasil yang baik,” tuturnya.

Namun, selain itu sebenarnya para petambak rakyat di Lampung Timur dan Lampung Selatan memang berangan- angan dapat membudidayakan udang jenis lain, yaitu udang vanamae.

“Udang itu tahan dalam kondisi air yang kurang oksigen. Selain itu, udang tersebut dapat ditebar dengan kepadatan lebih besar dibandingkan dengan udang windu. Tetapi, untuk dapat mengelolanya, kami harus keluar modal besar lagi untuk mengubah tambak tradisional ini menjadi tambak intensif. Sebab, vanamae hanya dapat dikembangkan dengan model tambak intensif,” ujar Sutoto.

Harapan serupa dikemukakan oleh Made. “Para pembenur sebenarnya mampu untuk membuat benur vanamae. Tetapi, selama ini kami belum dapat memperolehnya, paling-paling kami hanya dapat nopli atau mengembangkan yang sudah berumur dua hari saja. Itu pun harus bekerja sama dengan perusahaan besar,” ujarnya.

Kendala itu disebabkan perlu ada izin impor dari pemerintah, untuk dapat mendatangkan induk vanamae ke Indonesia. Oleh karena itu, mereka berharap pemerintah dapat membantu para petambak dan para pembenur agar dapat mengembangkan udang impor itu. Di Lampung, selama ini pembenuran udang vanamae masih didominasi oleh pembenur besar sekelas PT Biru Laut Khatulistiwa dan PT Central Pertiwi Bahari. (B Josie Susilo Hardianto)

25 Juni 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.